![]() |
| Yayasan Uma Nusantara Gelar Weaving Wonder Jalur Tenun NTT di Jakarta, Angkat Keindahan Tenun hingga Rumah Adat, Sabtu (20/06). Foto : Efraim Mita/Burhanudin Iskandar |
Star News INDONESIA, Sabtu, (20 Juni 2026). JAKARTA - Yayasan Uma Nusantara menggelar rangkaian kegiatan kebudayaan bertajuk Weaving Wonder Jalur Tenun NTT di Jakarta pada 13–27 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan sekaligus memperkuat upaya pelestarian kain tenun khas Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada masyarakat luas, khususnya di ibu kota.
Acara tersebut menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari pameran tenun tradisional, diskusi budaya, hingga ruang interaksi yang mempertemukan para pelaku budaya, pemerhati seni, dan masyarakat umum. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi NTT yang ditandai dengan kehadiran Gubernur NTT sebagai representasi daerah dalam mempromosikan kekayaan budaya tenun daerah.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian pengunjung adalah sesi diskusi bertajuk “Kisah Rumah Tradisional dan Lembar-Lembar Kain Adat”. Diskusi tersebut menghadirkan arsitek sekaligus Founder Yayasan Uma Nusantara, Yori Antar, serta inisiator Jalur Tenun Sumba dari Yayasan Uma Nusantara, Rizali Din Doeana.
Dalam pemaparannya, Yori Antar menjelaskan bahwa tenun tradisional NTT tidak hanya memiliki fungsi sebagai busana atau produk kerajinan, tetapi juga menyimpan nilai filosofis yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat dan arsitektur tradisional.
“Rumah tradisional adalah wadah kehidupan, sedangkan lembar-lembar kain adat adalah narasinya. Keduanya tidak bisa dipisahkan karena sama-sama lahir dari rahim budaya, ritual, dan spiritualitas masyarakat NTT,” ujar Yori.
Sementara itu, Rizali Din Doeana yang akrab disapa Ippit Doeana menyoroti pentingnya pengembangan program Jalur Tenun Sumba sebagai upaya menjaga keberlanjutan tradisi menenun. Menurutnya, setiap motif yang tertuang dalam kain tenun NTT mengandung cerita tentang sejarah, identitas sosial, serta hubungan masyarakat dengan alam dan lingkungan sekitarnya.
Ia menegaskan bahwa program Jalur Tenun yang dikembangkan Yayasan Uma Nusantara bertujuan memperkuat ekosistem para penenun lokal agar tetap produktif sekaligus memperoleh akses yang lebih luas ke pasar nasional maupun internasional.
Kehadiran Gubernur NTT dalam kegiatan tersebut juga menjadi simbol sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas budaya dalam menjaga warisan leluhur. Dengan mengenakan kain khas Ende Lio, gubernur menunjukkan dukungan terhadap promosi dan pelestarian tenun daerah sebagai bagian dari identitas budaya NTT.
Tenun Ende Lio dikenal memiliki teknik ikat yang kompleks dengan ragam motif geometris dan simbol-simbol budaya yang sarat makna. Keberadaannya menjadi salah satu representasi kekayaan tenun NTT yang tersebar di berbagai kabupaten dengan karakteristik dan nilai filosofis yang berbeda-beda.
Melalui Weaving Wonder Jalur Tenun NTT, Yayasan Uma Nusantara berharap masyarakat dapat melihat tenun bukan sekadar produk fesyen, melainkan sebagai warisan budaya yang menyimpan sejarah, pengetahuan tradisional, dan identitas masyarakat yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Rangkaian kegiatan ini masih berlangsung hingga 27 Juni 2026 dan terbuka bagi masyarakat umum, pecinta seni, kolektor kain, akademisi, arsitek, maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur melalui tenun tradisionalnya.
Penulis : Efraim Mita
Editor : Burhanudin Iskandar

