![]() |
| Sutradara Roy Wijaya, Jumat (11/9). Foto : Cheryil Apriani/Maria Patricia |
Star News INDONESIA, Jumat, (11 September 2026). JAKARTA - Sutradara, penulis, pelaku budaya sekaligus konseptor seni pertunjukan Roy Wijaya punya ambisi besar untuk pengembangan pendidikan film di Indonesia. Ia ingin Politeknik SSR berkembang menjadi kampus film berstandar industri sekaligus menjadi barometer kualitas sumber daya manusia (SDM) perfilman nasional.
Menurut Roy, perkembangan industri film dan ekonomi kreatif Indonesia harus diikuti dengan kesiapan SDM yang memiliki kompetensi teknis sekaligus memahami kultur kerja profesional.
Ia menilai tantangan pendidikan film saat ini bukan hanya bagaimana mencetak mahasiswa yang mampu membuat karya, tetapi juga memastikan mereka siap menghadapi sistem kerja industri setelah lulus.
“Apa yang dipelajari di dalam kelas harus menjadi cerminan langsung dari apa yang berlaku di lapangan,” ujar Roy Wijaya.
Roy mengatakan penguasaan teknis memang menjadi bagian penting dalam pendidikan film. Namun, kemampuan tersebut harus dilengkapi dengan pemahaman mengenai budaya kerja.
Mahasiswa, kata dia, perlu memahami bagaimana sebuah produksi berjalan, bekerja dalam tim, mengikuti standar operasional, mengelola waktu, serta menjalankan tanggung jawab secara profesional.
Hal tersebut dinilai penting karena industri film merupakan ekosistem kerja kolektif yang melibatkan banyak orang dengan fungsi dan tanggung jawab berbeda.
“Banyak lulusan seni film yang mahir secara teknis, namun belum siap secara sistem kerja industri. Celah inilah yang ingin kami jembatani—membentuk karakter sekaligus keahlian secara seimbang,” tutur Roy.
Roy berharap Politeknik SSR tidak berhenti sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan. Ia ingin kualitas lulusan yang dihasilkan nantinya menjadi salah satu tolok ukur kesiapan SDM film Indonesia.
Untuk mencapai target tersebut, proses pembelajaran perlu semakin dekat dengan praktik industri. Mahasiswa diarahkan untuk mengenal pola kerja yang mereka akan hadapi di lokasi syuting, rumah produksi, stasiun penyiaran, maupun industri konten digital.
“Kualitas lulusan nanti akan menjadi indikator sejauh mana seseorang siap terjun langsung ke lokasi syuting, rumah produksi, atau rumah penyiaran tanpa memerlukan pelatihan ulang yang berlebihan,” kata Roy.
Dengan pendekatan itu, lulusan Politeknik SSR diharapkan tidak hanya memiliki portofolio karya, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan sejak pertama kali masuk ke industri.
Visi Roy juga menyentuh persoalan standar kerja dalam industri film nasional. Ia ingin lulusan Politeknik SSR nantinya membawa budaya kerja yang lebih tertib, efisien, dan profesional.
Karena itu, lingkungan pendidikan di kampus diharapkan dapat dibuat sedekat mungkin dengan kondisi kerja sebenarnya. Dukungan fasilitas produksi, pengajar yang memahami perkembangan industri, hingga koneksi dengan pelaku industri menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Mahasiswa, menurut Roy, perlu mendapatkan pengalaman yang tidak hanya mengajarkan cara membuat karya, tetapi juga bagaimana mengelola proses produksi secara profesional.
“Lulusan Politeknik SSR tidak hanya mengisi posisi yang tersedia, tetapi juga membawa cara kerja yang lebih rapi, efisien, dan modern. Secara perlahan hal ini akan mengangkat mutu keseluruhan ekosistem industri film nasional,” jelasnya.
Roy melihat kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri sebagai salah satu hal yang perlu dijembatani. Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi konten membuat kebutuhan industri bergerak sangat cepat.
Pendidikan film karena itu harus mampu membaca perubahan tersebut. Mahasiswa perlu memahami perkembangan teknologi produksi, televisi, platform digital, sekaligus tetap memiliki dasar kreativitas, seni, dan budaya.
Pengalaman Roy sebagai pelaku budaya dan konseptor seni pertunjukan turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya keseimbangan antara kreativitas dan profesionalisme.
Baginya, karya yang baik tidak hanya lahir dari kemampuan teknis, tetapi juga dari proses kerja yang terencana serta manusia-manusia yang memahami tanggung jawabnya.
Dengan visi tersebut, Politeknik SSR diharapkan tidak sekadar menjadi tempat mahasiswa memperoleh pendidikan formal. Kampus juga diarahkan menjadi ruang pembentukan talenta yang siap memasuki industri.
Lulusan idealnya memiliki tiga bekal sekaligus, yakni kemampuan teknis, kreativitas, dan karakter profesional.
Jika konsep tersebut dapat diterapkan secara konsisten, Roy berharap Politeknik SSR dapat mengambil peran lebih besar dalam membangun ekosistem perfilman Indonesia.
Tekad menjadikan Politeknik SSR sebagai barometer kampus film berstandar industri pada akhirnya bukan hanya soal kualitas pendidikan di lingkungan kampus. Lebih jauh, visi tersebut diarahkan untuk ikut meningkatkan kualitas SDM dan profesionalisme industri film nasional agar mampu bersaing di tingkat global.
Penulis : Cheryil Apriani
Editor : Maria Patricia

