![]() |
| Sutradara kawakan, Roy Wijaya bertekad Jadikan Kampus Politeknik SSR sebagai Kampus Film dan Barometer Kelas Industri Profesional, Rabu (9/9/2026). Foto : Ist. |
Star News INDONESIA, Rabu, (09 September 2026). JAKARTA - Pertumbuhan industri kreatif nasional ikut mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mampu memenuhi standar kerja profesional.
Kondisi tersebut membuat pendidikan vokasi di bidang film memiliki peran strategis. Lembaga pendidikan tidak lagi cukup hanya membekali mahasiswa dengan teori, tetapi juga perlu memastikan kompetensi yang dimiliki relevan dengan kebutuhan produksi di industri.
Politeknik SSR hadir dengan pendekatan pendidikan yang menempatkan praktik dan kebutuhan industri sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Melalui kurikulum yang diselaraskan dengan perkembangan dunia produksi film, televisi, dan konten digital, mahasiswa dipersiapkan untuk memahami proses kerja yang berlangsung di lingkungan profesional.
Salah satu tantangan pendidikan film adalah memastikan kemampuan lulusan sesuai dengan kebutuhan lapangan. Pengetahuan teoritis perlu berjalan beriringan dengan kemampuan teknis dan pemahaman terhadap alur kerja produksi.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu fokus Politeknik SSR. Proses pembelajaran dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep produksi, tetapi juga terbiasa dengan praktik kerja, prosedur produksi, penggunaan peralatan, serta dinamika yang muncul dalam proses pembuatan sebuah karya.
Dengan pola tersebut, kesiapan lulusan dapat menjadi salah satu indikator sejauh mana pendidikan mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja industri.
Bagi rumah produksi, stasiun televisi, maupun perusahaan yang bergerak di bidang konten digital, kesiapan kerja menjadi faktor penting dalam proses perekrutan. Lulusan yang telah terbiasa dengan pola kerja industri diharapkan dapat beradaptasi lebih cepat ketika memasuki lingkungan profesional.
Kebutuhan industri film juga tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat atau memahami aspek produksi. Dunia kerja menuntut kemampuan bekerja dalam tim, kedisiplinan, komunikasi, manajemen waktu, serta pemahaman terhadap tanggung jawab masing-masing anggota produksi.
Karena itu, pendidikan berbasis industri perlu membentuk pola pikir kerja profesional sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.
Politeknik SSR menempatkan aspek tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan karya, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produksi berjalan secara terstruktur, mulai dari tahap persiapan hingga penyelesaian.
Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya menjembatani kesenjangan antara kompetensi akademik dan ekspektasi dunia kerja.
Peran perguruan tinggi vokasi dalam industri kreatif juga dapat berkembang dari sekadar penyedia tenaga kerja menjadi salah satu penggerak peningkatan kualitas industri.
Melalui fasilitas pembelajaran yang dirancang menyerupai lingkungan kerja profesional, pengajar dengan pengalaman praktik, serta jejaring kerja sama dengan pelaku industri, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal standar kerja yang berlaku di lapangan.
Pengalaman tersebut diharapkan membentuk lulusan yang tidak sekadar mampu mengisi posisi pekerjaan yang tersedia, tetapi juga membawa pola kerja yang lebih efektif, terukur, dan profesional.
Dalam konteks yang lebih luas, keberadaan pendidikan film berbasis industri dapat ikut mendorong peningkatan kualitas ekosistem perfilman nasional. Kompetensi SDM yang semakin baik akan berpengaruh terhadap proses produksi dan pada akhirnya terhadap kualitas karya yang dihasilkan.
Perkembangan industri film Indonesia membutuhkan ekosistem SDM yang mampu mengikuti perubahan teknologi, pola konsumsi media, dan model produksi yang terus berkembang.
Di tengah kondisi tersebut, institusi pendidikan vokasi memiliki posisi penting sebagai penghubung antara kebutuhan industri dan proses pembentukan tenaga kerja.
Politeknik SSR berupaya mengambil peran tersebut dengan mengedepankan pendidikan yang berorientasi pada kesiapan kerja. Lulusannya diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memahami standar profesional yang dibutuhkan ketika memasuki dunia industri.
Dengan demikian, fungsi pendidikan film tidak sebatas menghasilkan lulusan, melainkan turut menjadi tolok ukur kesiapan kompetensi tenaga kerja sekaligus mendorong peningkatan standar profesional industri kreatif nasional.
Bagi industri film Indonesia yang terus berkembang, keberadaan SDM dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan lapangan menjadi salah satu fondasi penting untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan daya saing di tingkat global.
Penulis : Sultan Hafidz
Editor : Maria Patricia

