![]() |
| Oleh: Brigjen (Purn) MJP Hutagaol |
Star News INDONESIA, Minggu, (15 Februari 2026). JAKARTA - Kisah perjumpaan Raja Sulaiman dengan Ratu Saba’ adalah salah satu cerita besar dalam sejarah peradaban manusia yang melampaui batas agama dan bangsa.
Ia bukan sekadar legenda spiritual, melainkan refleksi tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, teknologi, perdagangan, dan diplomasi antarbangsa pada masa kuno.
Dalam tradisi suci, Sulaiman digambarkan sebagai raja yang memiliki kekuasaan politik, kekuatan militer, kekayaan ekonomi, serta kebijaksanaan moral.
Ia memimpin kerajaan besar yang terorganisasi dengan baik, menguasai ilmu pengetahuan, dan mampu berkomunikasi dengan berbagai makhluk. Sedangkan Ratu Saba’ tampil sebagai pemimpin perempuan yang cerdas, makmur, dan rasional—seorang penguasa yang tidak gegabah, tetapi menguji kebenaran dengan akal dan diplomasi.
Pertemuan mereka adalah simbol perjumpaan dua peradaban besar: peradaban Timur Tengah dengan peradaban selatan yang kaya akan rempah, kemenyan, dan hasil bumi.
Perdagangan, Kemenyan, dan Jejak Nusantara
Sejarah mencatat bahwa dunia kuno sangat bergantung pada perdagangan kemenyan, mur, dan rempah-rempah.
Barang-barang ini bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga religius dan simbolik. Kemenyan digunakan dalam ritual keagamaan, pengobatan, dan kerajaan.
Nusantara—khususnya wilayah Barus di Sumatra—telah dikenal sejak ribuan tahun lalu sebagai penghasil kemenyan terbaik dunia. Jalur perdagangan kuno menghubungkan Nusantara dengan India, Arab, Afrika Timur, dan Laut Tengah. Maka sangat mungkin bahwa kekayaan yang dibawa Ratu Saba’ ke istana Sulaiman berasal dari jaringan perdagangan global yang juga bersentuhan dengan wilayah Asia Tenggara.
Dalam tradisi Kristen, orang Majus yang membawa emas, mur, dan kemenyan kepada Yesus adalah para ahli perbintangan dari Timur. “Timur” dalam peta dunia kuno bukan hanya Persia, tetapi seluruh wilayah jauh di sebelah timur Laut Tengah—yang hari ini bisa mencakup India dan bahkan Asia Tenggara. Walau tidak dapat dipastikan secara historis bahwa mereka berasal dari Nusantara, hubungan dagang global saat itu menunjukkan bahwa Nusantara bukan wilayah terisolasi, melainkan bagian dari peradaban dunia.
Diplomasi, Bukan Perang
Hal paling penting dari kisah Sulaiman dan Ratu Saba’ adalah: konflik diselesaikan bukan dengan perang, tetapi dengan dialog dan kebijaksanaan.
Ratu Saba’ tidak datang membawa pasukan, melainkan membawa hadiah dan pertanyaan. Ia ingin menguji apakah Sulaiman adalah raja zalim atau raja bijak.
Sulaiman pun tidak menyombongkan kekuatan militernya, tetapi menunjukkan ilmu dan kebijaksanaan. Inilah pelajaran peradaban: kekuasaan sejati bukan pada senjata, melainkan pada akal dan moral.
Ini sangat relevan bagi dunia hari ini, ketika konflik global masih diselesaikan dengan senjata, embargo, dan adu kekuatan.
Pelajaran bagi Indonesia (Nusantara) Hari Ini
Indonesia sebagai bangsa maritim dan pewaris jalur perdagangan kuno sesungguhnya memiliki posisi strategis seperti negeri Saba’ dahulu: kaya sumber daya, berada di jalur perdagangan dunia, dan memiliki keberagaman budaya.
Namun kekayaan tanpa kebijaksanaan justru melahirkan konflik, korupsi, dan ketimpangan. Kisah Raja Sulaiman dan Ratu Saba’ mengajarkan bahwa:
Kepemimpinan harus berbasis hikmat, bukan keserakahan.
Perdagangan harus membawa kesejahteraan, bukan penjajahan ekonomi.
Perbedaan iman dan budaya dapat dipertemukan lewat dialog.
Ilmu pengetahuan harus berjalan bersama moralitas.
Indonesia hari ini membutuhkan pemimpin yang bukan hanya kuat secara politik, tetapi juga bijaksana secara etika.
Dunia Modern dan Krisis Kebijaksanaan
Kita hidup di era teknologi tinggi, tetapi miskin kebijaksanaan. Senjata semakin canggih, namun perdamaian semakin rapuh. Informasi melimpah, tetapi kebenaran sering dikaburkan. Inilah sebabnya kisah kuno tetap relevan: ia mengingatkan bahwa peradaban runtuh bukan karena kurang teknologi, melainkan karena kehilangan nilai.
Sulaiman adalah simbol keseimbangan antara kekuasaan, ilmu, dan iman. Ratu Saba’ adalah simbol pemimpin yang mau belajar dan tidak terjebak ego kekuasaan. Dunia modern membutuhkan kembali model kepemimpinan semacam ini.
Nusantara sebagai Jembatan Peradaban
Jika Nusantara dahulu menjadi penghubung perdagangan dunia, maka Indonesia hari ini dapat menjadi penghubung peradaban: antara Timur dan Barat, antara agama dan modernitas, antara ekonomi dan etika.
Bukan kebetulan jika kisah kemenyan, mur, dan emas menghubungkan Timur jauh dengan Yerusalem. Itu simbol bahwa peradaban manusia sejak awal saling terkait. Tidak ada bangsa yang berdiri sendiri.
Penutup
Kisah Sulaiman dan Ratu Saba’ bukan sekadar cerita iman, tetapi cermin sejarah peradaban. Ia mengajarkan bahwa kebesaran bangsa lahir dari kebijaksanaan, bukan dari kesombongan. Bahwa perdagangan harus disertai keadilan. Bahwa perbedaan harus dipertemukan dalam dialog, bukan konflik.
Indonesia—sebagai pewaris Nusantara—memiliki peluang untuk menghidupkan kembali semangat itu: menjadi bangsa yang kuat, adil, bijaksana, dan menjadi jembatan perdamaian dunia.
Penulis:
Brigjen (Purn) MJP Hutagaol
Jakarta, Februari 2026.
Penanggung Jawab Editor. Pemimpin Redaksi Star News Indonesia.
Drs T Christian L Bengngu. STh.

