Star News INDONESIA, Rabu, (02 September 2026). JAKARTA - Sebanyak 640 pedagang kaki lima (PKL) yang selama puluhan tahun beraktivitas di Pasar Subuh Kramatjati, Jakarta Timur, direlokasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Proses pemindahan yang berlangsung pada Selasa (1/9/2026) itu disebut berjalan damai tanpa kerusuhan.
Relokasi dilakukan dengan menempatkan sebagian pedagang di Lokasi Binaan (Lokbin) Kramatjati. Sementara pedagang lainnya disiapkan untuk menempati lahan kosong milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan penataan Pasar Subuh Kramatjati merupakan persoalan yang telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun.
Menurut Pramono, berbagai upaya relokasi sebelumnya belum berhasil direalisasikan. Kali ini, pemerintah daerah bersama sejumlah pihak, termasuk organisasi masyarakat Masyarakat Madura Asli (Madas) Nusantara, berhasil melakukan pemindahan pedagang secara damai.
"Para pedagang kaki lima Pasar Subuh Kramatjati disiapkan tempat yang baik. Jadi tidak lagi berjualan di trotoar badan jalan," kata Pramono saat berdialog dengan pedagang ikan di Lokbin Kramatjati, Jakarta Timur.
Pramono mengatakan pedagang nantinya dikenakan biaya sekitar Rp6.000 per hari. Namun, biaya tersebut baru diberlakukan setelah masa pembebasan selama enam bulan.
Selain tempat berjualan, Pemprov DKI juga menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung, antara lain drainase dan kipas angin. Pemerintah juga berencana membantu pemasaran produk yang dijual para pedagang, termasuk produk ikan.
Dalam dialog tersebut, sejumlah pedagang menyampaikan apresiasi karena telah mendapatkan lokasi baru. Namun, mereka mengeluhkan kondisi pasar yang masih sepi pembeli setelah relokasi.
Menanggapi keluhan itu, Pramono meminta jajarannya membantu mempromosikan lokasi baru Pasar Subuh Kramatjati agar masyarakat mengetahui perpindahan tersebut dan kembali berbelanja di lokasi yang telah disediakan.
Madas Nusantara Dukung Penataan Jakarta
Ketua Umum Madas Nusantara KRH HM Jusuf Rizal mengatakan relokasi dilakukan sebagai bagian dari upaya pembinaan, perlindungan, dan peningkatan kesejahteraan anggota.
Menurut Jusuf, organisasinya mendukung program Pemprov DKI untuk menata Jakarta, tetapi penataan tersebut diharapkan tetap memperhatikan keberlangsungan usaha pedagang yang telah puluhan tahun mencari nafkah di kawasan tersebut.
"Kami memberi apresiasi kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Selain diberikan Lokbin yang menampung 120 pedagang ikan, sisanya diberikan lahan untuk tempat jadi Pasar Subuh di Kramatjati," ujar Jusuf.
Jusuf mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Wali Kota Jakarta Timur dan Camat Kramatjati untuk merealisasikan penggunaan lahan tersebut sebagai lokasi baru Pasar Subuh.
Ia menyebut Pasar Subuh Kramatjati selama ini menjadi salah satu tempat kulakan bagi pedagang lain. Aktivitas perdagangan berlangsung pada malam hingga dini hari, dengan komoditas seperti ikan, daging, ayam, sayuran, dan kue.
Para pedagang biasanya mulai berjualan sekitar pukul 21.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB. Setelah pukul 06.00 WIB, aktivitas perdagangan disebut telah berhenti dan lokasi dibersihkan.
Jusuf mengatakan Pemprov DKI memberikan waktu tiga minggu untuk menyiapkan lokasi baru bagi pedagang yang belum masuk ke Lokbin.
"Kami oleh Pak Gubernur Pramono diberikan waktu tiga minggu untuk menyiapkan lokasi baru Pasar Subuh agar pedagang lain bisa segera pindah dengan berjualan lebih nyaman dan aman," kata Jusuf.
Pedagang Akan Mendapat Pendampingan
Selain mendukung proses relokasi, Madas Nusantara menyatakan akan memberikan pendampingan kepada para pedagang.
Jusuf mengatakan pendampingan tersebut antara lain berupa pelatihan bagi pedagang, fasilitasi perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, serta upaya mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Menurut dia, para pedagang yang direlokasi merupakan pekerja sektor informal dan anggota PUK Madas Nusantara-FSPTSI-KSPSI.
Madas Nusantara juga berencana berkoordinasi dengan Bank DKI dan BPJS Ketenagakerjaan agar program pembiayaan serta perlindungan sosial dapat disosialisasikan kepada para pedagang.
"Kami akan bersurat secara resmi kepada Gubernur DKI Jakarta agar dalam proses pengajuan KUR tidak dipersulit. Kita minta Bank DKI Jakarta dan BPJS Ketenagakerjaan juga bisa sosialisasi," ujar Jusuf.
Relokasi tersebut diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan penggunaan trotoar dan badan jalan, tetapi juga memberikan kepastian tempat usaha bagi ratusan pedagang yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas Pasar Subuh Kramatjati.
Penulis : Tedi Abbaz
Editor : Bayu Indrawan

