Pasca Gugurnya Ali Khamenei, Iran Hadapi Ketidakpastian Politik di Tengah Serangan AS
ⒽⓄⓂⒺ

Pasca Gugurnya Ali Khamenei, Iran Hadapi Ketidakpastian Politik di Tengah Serangan AS

Minggu, April 26, 2026
Kapal dan bangunan angkatan laut yang hancur setelah serangan AS dan Israel, di Konarak, Iran. [Foto via Vantor Purchase Licensing Rights]


Star News INDONESIAMinggu, (26 April 2026). JAKARTA - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat hingga akhir April 2026, menyusul operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Washington melalui “Operation Final Justice” sejak Februari lalu. 


Konflik ini kini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu kekhawatiran global di sektor ekonomi dan keamanan.


Militer AS dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk situs peluncuran rudal balistik, pangkalan drone, serta fasilitas nuklir di wilayah Isfahan dan Natanz. 


Serangan ini disebut sebagai upaya untuk melumpuhkan kemampuan militer dan nuklir Iran secara menyeluruh.


Situasi semakin kompleks setelah gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kepemimpinan sementara kini berada di bawah Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, memicu ketidakpastian politik di dalam negeri Iran dan meningkatkan risiko instabilitas lebih lanjut.


Di laut, Selat Hormuz menjadi titik paling rawan. Iran dilaporkan menebar ranjau laut di jalur tersebut, menyebabkan gangguan besar terhadap lalu lintas kapal tanker global. Kondisi ini turut mendorong harga minyak dunia ke level tertinggi dalam satu dekade.


Upaya diplomasi sejauh ini belum membuahkan hasil. Gencatan senjata sementara selama 14 hari yang dimediasi oleh Oman dan Qatar telah berakhir tanpa perpanjangan. 


Pertemuan antara delegasi AS dan Iran di Islamabad juga dilaporkan menemui jalan buntu, terutama terkait tuntutan AS agar Iran membubarkan program nuklirnya.


Di tingkat internasional, Dewan Keamanan PBB masih terpecah. Rusia dan China menolak sanksi tambahan, sementara negara-negara Barat mendorong embargo senjata terhadap Iran.


Dampak kemanusiaan juga mulai terlihat. Ribuan warga Iran dilaporkan mengungsi menuju perbatasan Turki dan Pakistan untuk menghindari konflik yang terus meluas.


Di dalam negeri AS, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer tidak akan dihentikan sebelum ancaman nuklir Iran sepenuhnya dinetralisasi. 


Namun, tekanan domestik meningkat dengan munculnya gelombang protes anti-perang di berbagai kota besar.


Dengan situasi yang semakin tegang, dunia kini menanti langkah berikutnya dari Teheran—apakah akan melakukan pembalasan besar atau kembali ke meja perundingan. 


Banyak pihak khawatir bahwa kegagalan diplomasi dapat menyeret konflik ini ke fase perang yang lebih luas dan berkepanjangan.


Penulis : Eddie Lim

Editor : Maria Patricia

𝓕𝓸𝓽𝓸 𝓣𝓮𝓻𝓫𝓪𝓻𝓾 :




Bagikan ini ke

ⓈⒽⒶⓇⒺ :

Komentar Anda

TerPopuler