![]() |
| Sebuah bendera Iran ditancapkan di reruntuhan kantor polisi yang rusak akibat serangan udara pada 3 Maret 2026 di Teheran, Iran. [Foto : Getty] |
Star News INDONESIA, Senin, (09 Maret 2026). JAKARTA - Konflik militer antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat sejak dimulainya operasi militer besar-besaran pada 28 Februari 2026.
Hingga awal Maret 2026, perang tersebut telah memasuki hari kedelapan dengan saling serang yang semakin intens di berbagai wilayah Timur Tengah.
Serangan awal dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel melalui operasi udara terkoordinasi yang menargetkan fasilitas militer, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur strategis Iran.
Operasi tersebut merupakan bagian dari kampanye untuk melemahkan kemampuan militer Iran serta mencegah pengembangan program nuklir yang dianggap sebagai ancaman keamanan regional.
Menurut laporan berbagai lembaga pemantau konflik, ratusan hingga ribuan target di Iran telah diserang sejak hari pertama operasi militer.
Serangan tersebut mencakup pangkalan militer, fasilitas rudal balistik, hingga infrastruktur energi.
Bahkan sejumlah wilayah di ibu kota Teheran dilaporkan mengalami ledakan besar akibat gelombang serangan udara terbaru.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal balistik dan drone ke arah Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Serangan tersebut juga dilaporkan menyasar wilayah sipil di Israel, termasuk area sekitar Tel Aviv dan Yerusalem.
Data sementara menunjukkan bahwa korban jiwa di Iran telah melampaui 1.300 orang sejak dimulainya serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel.
Sementara itu, sejumlah korban juga dilaporkan di Israel akibat serangan rudal balasan dari Iran.
Laporan media internasional menyebutkan bahwa kampanye militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel berlangsung dengan intensitas tinggi dan menargetkan banyak lokasi setiap hari.
Bahkan beberapa pengamat menyebut tempo serangan tersebut termasuk yang tercepat dalam konflik modern.
Di tengah eskalasi konflik, komunitas internasional mulai menyuarakan kekhawatiran akan meluasnya perang ke kawasan yang lebih luas.
Sejumlah negara dan pejabat Eropa menilai serangan militer tersebut berpotensi melanggar hukum internasional serta memperbesar risiko krisis kemanusiaan.
Selain dampak kemanusiaan, konflik ini juga memicu ketidakstabilan ekonomi global, terutama terkait pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Para analis memperingatkan bahwa jika perang terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak negara, maka dampaknya dapat dirasakan secara luas oleh ekonomi dunia.
Situasi di Timur Tengah hingga kini masih sangat dinamis. Serangan udara, rudal, dan operasi militer lainnya diperkirakan masih akan terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan seiring kedua pihak tetap mempertahankan posisi militernya.
Penulis : Eddie Lim
Editor : Septian Maulana

