Damai Memerlukan Kekuatan: Pelajaran Industri Pertahanan Dunia untuk Masa Depan Indonesia
ⒽⓄⓂⒺ

Damai Memerlukan Kekuatan: Pelajaran Industri Pertahanan Dunia untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, Februari 13, 2026
Oleh: Brigjen (Purn) MJP Hutagaol


Star News INDONESIAJumat, (13 Februari 2026). JAKARTA - Sejarah peradaban manusia menyimpan satu paradoks abadi: bangsa yang ingin hidup damai justru harus memiliki kemampuan mempertahankan diri. Ungkapan klasik Si vis pacem, para bellum tetap relevan dalam lanskap geopolitik abad ke-21. Perdamaian bukan semata hasil niat baik, melainkan buah dari keseimbangan kekuatan.


Di ruang-ruang publik Indonesia, belanja militer kerap dipersepsikan sebagai beban anggaran. Namun pengalaman global menunjukkan hal sebaliknya. Negara-negara yang stabil dan berdaulat justru adalah mereka yang membangun industri pertahanan sebagai fondasi teknologi dan kemandirian nasional.


Industri Pertahanan sebagai Motor Inovasi


Amerika Serikat menjadikan sektor pertahanan sebagai lokomotif inovasi. Riset militer melahirkan satelit, GPS, internet, hingga kecerdasan buatan yang kini menopang ekonomi sipil. 


Bersama NATO, negara-negara Eropa Barat membangun ekosistem industri pertahanan kolektif yang terintegrasi dengan sektor sipil, menciptakan lapangan kerja dan teknologi strategis.


Rusia mempertahankan tradisi industri strategisnya meski di bawah tekanan sanksi. Sementara China membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir—menguasai bahan baku, riset universitas, hingga manufaktur canggih—dalam satu strategi nasional yang disiplin dan jangka panjang.


Di Timur Tengah, Israel menunjukkan bahwa ukuran wilayah bukan penentu kekuatan. Integrasi militer, universitas, dan startup teknologi menghasilkan inovasi pertahanan yang sekaligus menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.


Jepang dan Korea Selatan memberi pelajaran berbeda namun serupa: pertahanan dibangun di atas fondasi industri sipil yang presisi, disiplin riset, dan visi nasional jangka panjang.


Bahkan Korea Utara—dengan segala keterbatasannya—membuktikan bahwa prioritas politik yang konsisten mampu melahirkan daya gentar strategis. Di Asia Selatan, India dan Pakistan menjadikan industri pertahanan sebagai instrumen keseimbangan kekuatan regional.


Adapun Singapura, negara kecil tanpa sumber daya alam melimpah, membangun pertahanan berbasis teknologi dan jaringan global, menjadikannya salah satu kekuatan militer paling modern di Asia Tenggara.


Cermin Tingkat Peradaban


Dari berbagai contoh tersebut, satu benang merah terlihat jelas: industri pertahanan bukan sekadar pabrik senjata. Ia adalah cermin tingkat peradaban.


Negara yang mampu membangun industri pertahanan mandiri umumnya memiliki:

* Infrastruktur riset dan pendidikan tinggi yang kuat

* Integrasi kebijakan sipil–militer

* Industri nasional yang tangguh

* Visi jangka panjang lintas pemerintahan

* Dukungan kesadaran publik


Pertahanan, dalam makna ini, adalah bahasa universal dalam politik global—bahasa yang dipahami semua negara, tanpa perlu diterjemahkan.


Indonesia: Proyek Sektoral atau Proyek Peradaban?


Indonesia memiliki fondasi industri pertahanan: PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dirgantara Indonesia. Sumber daya alam melimpah, pasar domestik besar, dan posisi geopolitik strategis adalah modal yang tidak kecil.


Namun pertanyaan mendasarnya bersifat konseptual:

Apakah industri pertahanan telah ditempatkan sebagai proyek nasional lintas generasi?

Ataukah masih diperlakukan sebagai program sektoral yang bergantung pada siklus anggaran?


Indonesia bangga menyebut diri sebagai bangsa cinta damai. Tetapi sejarah kemerdekaan mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak pernah diberikan; ia diperjuangkan dan dipertahankan. Perdamaian tanpa kesiapan adalah ilusi.


Industri pertahanan nasional semestinya dipahami sebagai:

* Instrumen kedaulatan

* Penggerak inovasi teknologi

* Motor industrialisasi strategis

* Simbol martabat bangsa


Bukan semata daftar belanja alutsista.


Kekuatan sebagai Jalan Menuju Damai


Tulisan ini bukan ajakan untuk memuliakan perang. Justru sebaliknya: ia adalah ajakan untuk berpikir dewasa tentang perdamaian.


Dunia internasional tidak bergerak atas dasar idealisme semata, melainkan kepentingan nasional. Dalam realitas tersebut, kekuatan adalah penjamin stabilitas.


Jika Indonesia ingin damai, maka Indonesia harus kuat.

Jika Indonesia ingin kuat, maka Indonesia harus membangun kemandirian industri pertahanannya.

Dan jika Indonesia ingin bermartabat, maka penguasaan teknologi strategis bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.


Kini pertanyaannya bukan lagi, perlukah industri pertahanan?


Melainkan:

beranikah kita menjadikannya proyek peradaban bangsa?


Penanggung jawab Editor : 

Penimpin Redaksi Star News Indonesia. 

Drs. T Christian Lescrow B. STh.



𝓕𝓸𝓽𝓸 𝓣𝓮𝓻𝓫𝓪𝓻𝓾 :




Bagikan ini ke

ⓈⒽⒶⓇⒺ :

Komentar Anda

TerPopuler