![]() |
Amerika Cegah Ukraina Gunakan Rudal Jarak Jauh untuk Tekan Putin Berunding. Foto : Alexander Ermochenko/Reuters |
Star News INDONESIA, Minggu, (24 Agustus 2025). JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah secara diam-diam membatasi penggunaan rudal jarak jauh oleh Ukraina untuk menyerang target di dalam wilayah Rusia sejak akhir musim semi 2025.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya diplomatik pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mendorong Presiden Rusia, Vladimir Putin, kembali ke meja perundingan.
Laporan eksklusif dari The Wall Street Journal dan The Guardian pada Sabtu (24/8) menyebutkan bahwa Departemen Pertahanan AS telah menerapkan sistem tinjauan ketat atas setiap permintaan serangan dari Ukraina yang melibatkan senjata jarak jauh buatan AS, seperti ATACMS (Army Tactical Missile System).
Dalam kebijakan tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth diberikan kewenangan untuk memberikan persetujuan akhir atas penggunaan senjata jarak jauh yang disuplai Washington ke Kyiv. Hingga kini, sebagian besar permintaan Ukraina untuk menyerang sasaran militer di wilayah Rusia ditolak.
“Langkah ini diambil untuk mencegah eskalasi besar dan menjaga jalur diplomasi tetap terbuka,” kata seorang pejabat senior AS yang dikutip WSJ. Pemerintah AS disebut sedang mencari keseimbangan antara mendukung pertahanan Ukraina dan mencegah konflik langsung dengan Moskow.
Langkah ini menuai perhatian tajam dari para analis dan pendukung Ukraina, yang menilai pembatasan tersebut membatasi kemampuan Kyiv untuk membalas serangan rudal dan drone Rusia yang diluncurkan dari wilayah dalam negeri Rusia.
Sementara itu, Rusia disebut tetap meningkatkan serangan ke wilayah Ukraina, termasuk ke infrastruktur sipil dan fasilitas energi. Ukraina sendiri belum mengomentari secara resmi kebijakan AS ini, namun beberapa pejabat di Kyiv menyatakan frustrasi atas batasan-batasan tersebut.
Sebelumnya, Amerika Serikat telah memberikan ratusan unit ATACMS serta sistem pendukung lainnya kepada Ukraina sebagai bagian dari paket bantuan militer sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Namun, dengan adanya perubahan kebijakan ini, penggunaan senjata tersebut menjadi sangat terbatas.
Langkah terbaru ini menandai pergeseran strategi pemerintahan Trump yang kini lebih mengedepankan negosiasi diplomatik ketimbang konfrontasi langsung melalui dukungan militer ofensif. Belum ada tanda-tanda resmi dari Kremlin terkait respon atas kebijakan baru AS ini.
Penulis : Eddie Lim
Editor : Maria Patricia