![]() |
| GKPB Bali Gelar Kebaktian Bernuansa NTT, Minggu (20/9). Foto : Agung Wiranata/Yudha Mahardika |
Star News INDONESIA, Selasa, (22 September 2026). DENPASAR - Suasana berbeda hadir dalam kebaktian Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB), Minggu (20/9/2026). Jemaat dari etnis Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat ruang untuk melaksanakan kebaktian dengan nuansa budaya NTT.
Kebaktian tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang bagi keragaman budaya di lingkungan gereja. Meski GKPB lekat dengan nuansa dan tradisi Bali, gereja juga memberikan kesempatan kepada kelompok etnis lain untuk mengekspresikan identitas budaya mereka dalam kehidupan bergereja.
Nuansa NTT dalam kebaktian menjadi gambaran bahwa kehidupan berjemaat tidak hanya mempertemukan umat dalam iman, tetapi juga mempertemukan beragam latar belakang budaya.
Kehadiran unsur budaya NTT dalam kebaktian juga menunjukkan bahwa identitas budaya dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan keagamaan. Tradisi yang dibawa jemaat NTT menjadi bagian dari kekayaan ekspresi iman di tengah masyarakat Bali yang memiliki keberagaman suku dan budaya.
Bagi jemaat asal NTT, kesempatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk tetap merawat identitas budaya di tengah kehidupan mereka di Bali. Sementara bagi jemaat lainnya, kebaktian bernuansa NTT membuka kesempatan untuk mengenal kekayaan budaya dari daerah lain di Indonesia.
GKPB dengan demikian tidak hanya menjadi ruang peribadatan, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai latar belakang masyarakat. Budaya Bali yang menjadi konteks utama gereja dapat berdampingan dengan ekspresi budaya dari daerah lain.
Kebaktian etnis NTT pada Minggu (20/9/2026) memperlihatkan bahwa keberagaman Indonesia dapat hadir dalam kehidupan bergereja. Perbedaan budaya tidak menjadi penghalang, melainkan dapat menjadi bagian dari kebersamaan dalam satu komunitas.
Semangat tersebut sejalan dengan realitas Indonesia sebagai negara yang memiliki beragam suku, bahasa, tradisi, dan budaya. Ketika ruang diberikan kepada setiap kelompok untuk mempertahankan sekaligus memperkenalkan identitas budayanya, gereja dapat menjadi salah satu tempat terjadinya perjumpaan dan dialog antarkebudayaan.
Di tengah kehidupan masyarakat Bali yang juga dihuni warga dari berbagai daerah di Indonesia, kebaktian bernuansa NTT di GKPB menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana keberagaman dapat dirawat melalui ruang-ruang bersama.
Kebaktian tersebut sekaligus menegaskan pesan bahwa gereja yang berakar pada konteks budaya setempat tetap dapat membuka diri terhadap keberagaman budaya Indonesia.
Penulis : Agung Wiranata
Editor : Yudha Mahardika

