![]() |
| Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol |
Star News INDONESIA, Selasa, (10 Februari 2026). JAKARTA - Sejarah menunjukkan, banyak negara dan organisasi besar tidak runtuh karena kekalahan terbuka, melainkan karena sesuatu yang lebih sunyi dan berbahaya: kelelahan jiwa organisasi. Mereka tampak kuat dari luar, tetapi kehilangan daya tahan dari dalam.
Dunia intelijen memberi cermin paling jujur tentang fenomena ini. Intelijen sejatinya bukan hanya soal mengumpulkan informasi, melainkan membaca daya hidup, makna, dan ketahanan batin sebuah sistem kekuasaan.
KGB Uni Soviet menjadi contoh paling gamblang. Selama puluhan tahun, KGB adalah mesin kontrol yang kuat dan ditakuti. Namun ketika Uni Soviet runtuh, KGB gagal menyelamatkan negaranya sendiri. Bukan karena kurang data, melainkan karena ideologi kehilangan makna dan loyalitas berubah menjadi keterpaksaan. Ketika jiwa kolektif runtuh, struktur hanya memperlambat kejatuhan.
Mossad, intelijen luar negeri Israel, sering dipersepsikan hampir tanpa cela. Namun sejarah mencatat kegagalan seperti kasus Lillehammer tahun 1973, salah sasaran dalam operasi pembalasan yang berujung krisis diplomatik. Kegagalan ini bukan karena teknologi, melainkan tekanan psikologis dan kelelahan manusia di balik operasi. Dari sini Mossad belajar bahwa musuh paling berbahaya sering kali berasal dari kelelahan batin internal.
CIA memberi pelajaran berbeda. Dalam invasi Teluk Babi tahun 1961, data lengkap dan rencana matang runtuh karena kesalahan membaca jiwa sosial-politik Kuba. Ini membuktikan bahwa intelijen berbasis data tanpa pemahaman rasa masyarakat hanya melahirkan ilusi kontrol.
Pelajaran serupa terjadi di Asia. Intelijen Jepang menjelang Perang Dunia II membaca Hindia Belanda bukan dari kekuatan militernya, melainkan dari kelelahan sistem kolonial dan krisis legitimasi. Jepang menang cepat karena membaca kelelahan, tetapi kalah kemudian karena gagal merawat jiwa rakyat yang ditaklukkan.
Jauh sebelum konsep intelijen modern dikenal Barat, Nusantara telah memiliki tradisi membaca kekuasaan melalui ilmu rasa, atau dalam tradisi Jawa dikenal sebagai ilmu titen. Ilmu titen bukan mistik, melainkan kemampuan mengamati pola berulang, membaca tanda-tanda halus, memahami watak manusia, serta merasakan perubahan arah kekuasaan sebelum ia tampak secara kasat mata. Ini adalah sistem peringatan dini berbasis pengalaman dan kedalaman batin.
Sejarah raja-raja Nusantara menunjukkan bahwa kemenangan dan kejatuhan sering ditentukan oleh keunggulan membaca rasa, bukan kekuatan senjata semata. Dalam tradisi awal Mataram, kekuasaan dibangun bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan pembacaan watak dan loyalitas. Pada masa Panembahan Senopati, perkawinan politik digunakan sebagai instrumen intelijen untuk menarik kekuatan lokal masuk ke pusat kekuasaan, sebagaimana terlihat dalam relasi dengan Ki Ageng Mangir. Sultan Agung, sebagai penerus, menyempurnakan pendekatan ini bukan melalui intrik personal semata, melainkan lewat perang simbol, isolasi psikologis, dan pembacaan rasa elite lawan dalam skala negara.
Raden Wijaya, pendiri Majapahit, menunjukkan kecerdasan membaca pola kekuasaan. Ia membaca kelelahan Dinasti Yuan, memanfaatkan momentum, dan membalik posisi dari yang diburu menjadi penguasa. Ia menang bukan karena kekuatan militer, melainkan ketepatan membaca waktu dan psikologi lawan.
Sebaliknya, Pangeran Diponegoro kalah bukan karena kurang keberanian, tetapi karena perang rasa dan simbol. Penangkapannya menunjukkan bahwa manipulasi psikologis dan legitimasi dapat melumpuhkan perlawanan yang secara moral benar.
Kerajaan Medang mengalami pralaya bukan hanya karena bencana atau serangan luar, tetapi karena hilangnya keseimbangan antara penguasa, rakyat, dan alam. Ketika tanda-tanda zaman tidak terbaca, kehancuran menjadi keniscayaan.
Benang merah dari intelijen modern dan tradisi Nusantara ini jelas: perang dimulai dari rasa, dari kepercayaan, legitimasi, dan makna yang hidup di dalam manusia.
Indonesia tahun 1998 adalah contoh nyata bagaimana sebuah rezim runtuh bukan karena kekalahan militer, melainkan karena kelelahan jiwa negara. Krisis ekonomi hanyalah pemicu; akar sesungguhnya adalah akumulasi hilangnya kepercayaan, matinya rasa keadilan, serta jarak emosional antara penguasa dan rakyat.
Aparat keamanan masih utuh dan struktur negara masih berdiri, tetapi legitimasi telah kosong. Intelijen pada masa itu tidak kekurangan informasi, namun gagal membaca kedalaman kelelahan sosial sebagai sinyal strategis yang menentukan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, tantangan terbesar bukan hanya ancaman eksternal, tetapi kelelahan internal yang tidak terbaca. Regulasi, anggaran, dan teknologi tidak akan efektif jika manusia di dalam sistem kehilangan makna pengabdian.
Karena itu, bangsa ini perlu menghidupkan kembali intelijen rasa, bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai pelengkap intelijen modern. Intelijen rasa adalah kemampuan membaca tanda-tanda sunyi sebelum krisis menjadi nyata.
Dalam lanskap geopolitik hari ini, intelijen bukan lagi sekadar operasi rahasia, melainkan kemampuan membaca kelelahan psikologis bangsa, baik lawan maupun diri sendiri. Negara bisa runtuh tanpa kudeta dan tanpa invasi, ketika kepercayaan publik mati.
Sejarah Mossad, CIA, KGB, intelijen Jepang, dan raja-raja Nusantara mengajarkan satu kebenaran sunyi: yang menentukan umur panjang sebuah sistem bukan kecanggihan atau kekerasan, melainkan kemampuannya merawat rasa dan jiwa manusianya.
Dan di era hari ini, perang paling menentukan adalah perang yang tidak terlihat.
Penanggung Jawab Editor :
Drs. T Christian Lescrow Bengngu. STh.

