![]() |
Krisis kemanusiaan di Suriah Selatan: SOHR laporkan jumlah korban tewas terbesar tahun ini. Foto : Yawashington |
Star News INDONESIA, Minggu, (20 Juli 2025). JAKARTA - Lebih dari 1.000 orang tewas dalam sepekan terakhir dalam gelombang kekerasan yang melanda wilayah selatan Suriah, khususnya di provinsi Sweida, menurut laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), sebuah organisasi pemantau konflik yang berbasis di Inggris.
Konflik tersebut melibatkan bentrokan sengit antara kelompok bersenjata Druze, suku Badui Sunni, pasukan keamanan pemerintah Suriah, serta intervensi udara dari Israel.
Kekerasan ini menandai eskalasi paling berdarah sejak awal tahun 2025 dan memunculkan kekhawatiran luas di komunitas internasional.
Eksekusi Singkat dan Serangan Udara
SOHR mencatat bahwa dari total korban jiwa, sedikitnya 298 warga sipil Druze, termasuk 194 orang yang diduga dieksekusi secara singkat oleh personel Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri Suriah.
Sementara itu, 336 pejuang Druze dilaporkan tewas dalam pertempuran, bersama dengan 342 personel keamanan pemerintah.
Di sisi lain, 21 warga Badui Sunni, termasuk 3 warga sipil, juga menjadi korban, beberapa di antaranya dilaporkan dieksekusi oleh kelompok bersenjata Druze.
Dalam eskalasi terbaru, 15 anggota pasukan pemerintah Suriah dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilakukan oleh militer Israel, yang mengklaim intervensi dilakukan untuk melindungi komunitas Druze dari potensi pembantaian.
Kondisi Kemanusiaan Memburuk
Kota Sweida kini berada dalam situasi "tenang namun tegang" menurut laporan The Guardian, dengan banyak wilayah mengalami pemadaman listrik, kekurangan air bersih, dan kerusakan infrastruktur vital.
Ribuan warga terpaksa mengungsi, sementara organisasi kemanusiaan internasional mendesak agar akses bantuan segera dibuka.
Kecaman Internasional dan Desakan Investigasi
Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia telah menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap eksekusi di luar hukum dan meningkatnya kekerasan sektarian. "Semua pihak yang terlibat harus dimintai pertanggungjawaban. Kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apapun," ujar pernyataan resmi dari kantor tersebut yang dikutip Reuters.
Ketegangan antara komunitas Druze dan kelompok Badui di wilayah selatan telah berlangsung selama bertahun-tahun, namun konflik kali ini dipicu oleh sengketa lokal yang cepat berubah menjadi kekerasan bersenjata setelah pasukan pemerintah masuk dan diduga melakukan tindakan brutal terhadap penduduk setempat.
Keterlibatan Israel yang tidak biasa di wilayah tersebut memunculkan spekulasi geopolitik baru, terutama menyangkut upaya Israel untuk membangun hubungan dengan minoritas Druze di kawasan.
Sementara gencatan senjata tidak resmi tampaknya mulai berlaku di sebagian wilayah Sweida, para analis memperingatkan bahwa tanpa penyelesaian politik yang adil dan kehadiran pengawas independen, konflik serupa bisa kembali meletus sewaktu-waktu.
Dunia kini menanti respons dari komunitas internasional terhadap salah satu tragedi kemanusiaan terbesar tahun ini di Suriah.
Penulis : Sultan Hafidz
Editor : Burhanudin Iskandar