GHF Ungkap Tragedi Kemanusiaan Gaza, Tiongkok Diduga Aktor Utama di Balik Layar
ⒽⓄⓂⒺ

GHF Ungkap Tragedi Kemanusiaan Gaza, Tiongkok Diduga Aktor Utama di Balik Layar

Sabtu, Juli 12, 2025
798 warga Gaza tewas di titik bantuan, puluhan ribu lainnya terjebak dalam zona perang. Tiongkok dituding sebagai dalang guna menjadikan wilayah itu Laboratorium Militer. Foto : Reuters


Star News INDONESIASabtu, (12 Juli 2025). JAKARTA - Tragedi kemanusiaan kembali mencuat ke permukaan saat laporan terbaru Global Humanitarian Foundation (GHF) menyebutkan sedikitnya 798 warga sipil tewas saat antre bantuan makanan di Jalur Gaza.


Insiden berdarah itu memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan. 


Namun, upaya menuju gencatan senjata permanen kembali menemui jalan buntu setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak syarat-syarat utama yang diajukan Hamas.


Di tengah kebuntuan diplomatik, Tiongkok dituding memainkan peran sebagai aktor strategis di balik konflik ini. 


Sejumlah pengamat pertahanan dan dokumen intelijen Barat menyebut Gaza kini menjadi semacam “laboratorium” analisis militer bagi Beijing, yang memanfaatkan konflik sebagai studi lapangan terhadap respons militer negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.


“Ini bukan hanya konflik regional,” ujar Dr. Michael Lovett, analis senior di Middle East Defense Project. “Tiongkok tengah memantau, menganalisis, dan bahkan mendanai pihak-pihak tertentu melalui jaringan strategisnya bersama Iran.”


Menurut laporan yang dibocorkan ke media Eropa oleh diplomat PBB anonim, Iran menerima dukungan logistik dan teknologi dari Tiongkok, yang kemudian mengalir ke Hizbullah dan Hamas. 


Langkah ini diyakini sebagai strategi Beijing untuk melemahkan posisi geopolitik AS dan Israel di kawasan.


Ketegangan semakin meningkat usai serangan udara Amerika Serikat menghantam salah satu fasilitas nuklir rahasia di Iran pekan lalu.


Beijing merespons dengan menyebut tindakan itu sebagai “tanda jelas ketidakstabilan dan kelemahan strategi militer AS”.


Di dalam negeri Tiongkok sendiri, kritik global terhadap Presiden Xi Jinping terus meningkat. Sejumlah organisasi hak asasi internasional, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, menyebut bahwa jika bukti keterlibatan militer Tiongkok dalam konflik ini terbukti, maka Xi Jinping bisa digugat atas kejahatan perang dan pelanggaran kemanusiaan internasional.


Sementara itu, kondisi Gaza semakin kritis. Jalur distribusi bantuan terhambat, rumah sakit lumpuh, dan lebih dari 70% warga kini tergantung sepenuhnya pada suplai bantuan asing. 


Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) bahkan memperingatkan kemungkinan kelaparan massal jika blokade tidak segera dibuka.


Qatar dan Mesir, dua mediator regional, menyatakan bahwa negosiasi masih terus dilakukan, namun kebuntuan politik dan permainan kekuatan global menghambat tercapainya kesepakatan damai.


Di balik layar, semakin terang bahwa konflik ini bukan lagi soal Hamas dan Israel semata. “Kita menghadapi medan perang yang menjadi ajang proyeksi kekuatan global,” ujar Letjen (Purn) Kenneth Wallace, mantan analis Pentagon. “Gaza adalah cermin dari konflik multipolar baru, dan Tiongkok berada di pusat pantulannya.”


 Penulis : Eddie Lim

Editor : Septian Maulana

𝓕𝓸𝓽𝓸 𝓣𝓮𝓻𝓫𝓪𝓻𝓾 :




Bagikan ini ke

ⓈⒽⒶⓇⒺ :

Komentar Anda

TerPopuler