Perang Teknologi: Bagaimana Dominasi AI dan 5G China Mengusik Hegemoni Digital Amerika
✕

🅼🅴🅽🆄 ꋊǝwઽ

  • REGIONAL
  • TNI-POLRI
  • MILITER
  • NASIONAL
  • HUKRIM
  • INTERNASIONAL
  • PEMERINTAH
  • POLITIK
  • MANCANEGARA
  • SPORT
  • LIFE STYLE
  • SERBA-SERBI
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • KESEHATAN
  • NARKOBA
  • HIBURAN
  • OPINI
  • PENDIDIKAN
  • ARTIS
  • SEJARAH
  • SELEBRITI
  • ZODIAK
  • FILM
  • MUSIK
  • RELIGI
  • TEKNOLOGI
  • RAMALAN
  • BISNIS
  • KKN
  • RELATIONSHIP
  • ARTI MIMPI
  • INFRASTRUKTUR
  • MISTERI DUNIA
  • SEREMONIAL
  • SKANDAL
  • PROFIL
  • PERTANIAN
  • NASA
  • FIGUR
  • IPTEK
  • PERTAMBANGAN
  • SOSIAL KEMANUSIAAN
Star News Indonesia
­ıllıllıS͙I͙A͙R͙A͙N͙ L͙A͙N͙G͙S͙U͙N͙G͙ıllıllı
ⒽⓄⓂⒺ › INTERNASIONAL › Perang Dagang AS-Tiongkok › POLITIK › TEKNOLOGI

Perang Teknologi: Bagaimana Dominasi AI dan 5G China Mengusik Hegemoni Digital Amerika

Sabtu, Mei 31, 2025

🄱🄰🄲🄰 🄹🅄🄶🄰 :

Ilustrasi : Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Foto : Eddie Lim/Burhanudin Iskandar


Star News INDONESIA, Sabtu, (31 Mei 2025). JAKARTA - Retorika keras Amerika Serikat terhadap Republik Rakyat China bukanlah semata propaganda geopolitik.


Berdasarkan serangkaian wawancara dengan analis intelijen, pakar ekonomi, serta bocoran dokumen pertahanan, ancaman China dipandang riil oleh kalangan pembuat kebijakan di Gedung Putih, Pentagon, hingga Silicon Valley.


Dominasi Teknologi dan Persaingan Inovasi

Amerika melihat kebangkitan teknologi China — khususnya dalam kecerdasan buatan, sistem pengawasan massal, dan jaringan 5G — sebagai ancaman langsung terhadap dominasi teknologinya. 


Perusahaan seperti Huawei, ZTE, dan Baidu tidak hanya menjadi pesaing komersial, tapi juga dinilai menjadi perpanjangan tangan negara untuk pengumpulan data dan intelijen.


“Teknologi 5G bukan hanya soal kecepatan internet, ini soal siapa yang mengendalikan arsitektur informasi global,” ujar Michael Barkley, analis keamanan siber di Brookings Institution.


Ekspansi Militer dan Provokasi di Kawasan Indo-Pasifik

China telah meningkatkan kehadiran militernya di Laut China Selatan, membangun pangkalan buatan, mempersenjatai pulau-pulau sengketa, dan menekan negara-negara ASEAN yang memiliki klaim teritorial. Pentagon menyebut manuver ini sebagai “strategi area denial” untuk menantang kehadiran AS dan sekutunya di Indo-Pasifik.


Latihan militer bersama AS dengan Jepang, Filipina, dan Australia semakin intens sebagai tanggapan atas manuver provokatif Beijing.


Perang Siber dan Operasi Intelijen Tersembunyi

Laporan tahun 2024 dari NSA menyebut China sebagai pelaku utama serangan siber terhadap infrastruktur Amerika, termasuk serangan terhadap perusahaan energi dan fasilitas pertahanan. 


Selain itu, kegiatan spionase konvensional melalui badan-badan akademik dan ekonomi juga meningkat tajam.


“China menjalankan operasi pengumpulan intelijen skala industri, dan targetnya bukan hanya pemerintah, tapi juga sektor swasta,” kata agen FBI yang enggan disebut namanya.


Ketergantungan Ekonomi dan Jebakan Utang Global

Meski saling terikat secara ekonomi, AS khawatir terhadap strategi China dalam mengendalikan rantai pasok global — khususnya bahan baku penting seperti logam tanah jarang, serta dominasi industri manufaktur. 


Lewat proyek-proyek seperti Belt and Road Initiative, Beijing diduga membangun 'jebakan utang' yang memperluas pengaruhnya secara global.


Taiwan: Titik Nyala Konflik Langsung

Dukungan AS terhadap Taiwan dianggap oleh Beijing sebagai pelanggaran prinsip 'Satu China'. Kunjungan pejabat tinggi AS ke Taipei dan penjualan senjata terbaru memicu peningkatan ketegangan. 


Konflik terbuka di Selat Taiwan kini dinilai sebagai salah satu skenario perang paling mungkin oleh RAND Corporation.


Tudingan AS terhadap China bukanlah tanpa dasar. Yang menjadi sorotan utama adalah kombinasi antara ekspansi kekuasaan, pengaruh global, serta cara Beijing mengaburkan batas antara aktor negara dan non-negara. Dalam pandangan strategis Amerika, China bukan hanya pesaing dagang atau rival militer — tetapi kekuatan yang menantang tatanan internasional liberal yang selama ini dibentuk oleh AS sejak akhir Perang Dunia II.


Penulis : Eddie Lim

Editor : Burhanudin Iskandar

TAGS :

Tags: INTERNASIONAL Perang Dagang AS-Tiongkok POLITIK TEKNOLOGI


𝓕𝓸𝓽𝓸 𝓣𝓮𝓻𝓫𝓪𝓻𝓾 :




Bagikan ini ke

ⓈⒽⒶⓇⒺ :

Komentar Anda

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

ͲȺƓϚ :

EKONOMI HUKRIM INTERNASIONAL LIFE STYLE MANCANEGARA MILITER NASIONAL PEMERINTAH POLITIK REGIONAL SPORT TNI-POLRI

🅣🅁🅔🄽🅓🄸🅝🄶

+

  • Kuasa Hukum Desak Polres TTS Dalami Surat Rujukan Puskesmas dalam Kasus Kematian Gustaf Nabuasa
    Kuasa hukum korban minta polisi usut dugaan penganiayaan yang menewaskan Gustaf Nabuasa di Amanuban Selatan, Jumat (03/07). Foto : Ferdi Tan...
  • Pengacara Indonesia-Australia Kawal Hak 55 WNI Korban Modus Tawaran Kerja di Australia
    Pengacara kondang Herry FF Battileo, S.H.,M.H., didampingi Advokat Lisa Hiariej dan pengacara asal Australia Justin Pondevida (pojok kanan),...
  • IPNU dan IPA Madina Tantang Kapolri Tangkap Terduga Mafia Tambang Ilegal GD dan PW
    IPNU dan IPA Madina desak Kapolri tangani langsung dugaan mafia tambang ilegal, Rabu (08/07). Foto : Magrifatulloh/Maria Patricia Star News ...
  • Inilah Arti Mimpi Dibelikan Mobil Baru Oleh Orang Tua yang Telah Tiada
    Arti Mimpi mendapat hadiah mobil baru dari orang yang telah tiada. Foto : Kemalasari/Septian Maulana Star News INDONESIA ,  Jumat, (03 Janua...
  • Kades Singengu Julu Bungkam soal Dugaan Reklamasi Ilegal di Kotanopan, Publik Pertanyakan Transparansi
    Dugaan Reklamasi tanpa izin di Kotanopan menguat, Kades Singengu Julu belum beri klarifikasi. Foto : Dok. Redaksi/Magrifatulloh Star News IN...

KURS BANK INDONESIA (BI)


{{ date }}
{{ time }}
(Waktu Bali-Nusra)
play storeapp storeapp gallery

Link Bawah

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • V𝐈ᗪ𝔼Ⓞ
Copyright ©҉ Star News Indonesia

TerPopuler